Pameran Comfort Women (Mengungkap ‘Jugun Ianfu’ Yang Masih Dianggap Tabu)

Perempuan adalah makhluk yang istimewa. Bahkan hanya bergaya perempuan saja sudah langsung memperoleh keistimewaan. ~ Arswendo Atmowiloto

Perempuan, apa yang anda bayangkan jika mendengar kata itu? Ibu RA. Kartini, lady Diana, Madona, cantik, menawan dan sanggup menyita mata lelaki. Beruntung rasanya jika semua perempuan bernasib seperti mereka. Tapi apa jadinya kalau perempuan hanya dijadikan budak dan memenuhi nafsu pria hidung belang secara paksa. Seperti karya fotografer asala Belanda, Jan Banning dan Hilde Janssen (Wartawati) dalam pameran foto bertajuk Comfort Women. Pameran ini digelar Malang Meeting Point (MAMIPO) di Galeri KEN AROK, Perpustakaan Kota Malang, 9 Januari 2012 – 18 Januari 2012. Pameran ini akan menampilkan 18 karya foto potret dari para mantan jugun ianfu beserta kisah testimoninya.

Jugun ianfu merupakan wanita yang dipaksa untuk menjadi pemuas kebutuhan seksual tentara Jepang yang ada di Indonesia dan juga di negara-negara jajahan Jepang lainnya pada kurun waktu tahun 1942-1945.

Menurut riset oleh Dr. Hirofumi Hayashi, seorang profesor di Universitas Kanto Gakuin, jugun ianfu termasuk orang Jepang, KoreaTiongkokMalaya (Malaysia dan Singapura), ThailandFilipina,IndonesiaMyanmarVietnamIndiaIndoBelanda, dan penduduk kepulauan Pasifik. Jumlah perkiraan dari jugun ianfu ini pada saat perang, berkisar antara 20.000 dan 30.000. Pengakuan dari beberapa jugun ianfu yang masih hidup jumlah ini sepertinya berada di batas atas dari angka di atas. Kebanyakan rumah bordilnya berada di pangkalan militer Jepang, namun dijalankan oleh penduduk setempat, bukan militer Jepang.

Menurut riset Dr. Ikuhika Hata, seorang profesor di Universitas Nihon. Orang Jepang yang menjadi jugun ianfu ini sekitar 40%, Korea 20%, Tionghoa 10%. Dan 30% sisanya dari kelompok lain.

DI INDONESIA

Para perempuan Indonesia biasanya direkrut menjadi jugun ianfu berdasarkan paksaan (diambil begitu saja di jalan atau bahkan di rumah mereka), diiming-imingi untuk sekolah ke luar negeri, atau akan dijadikan pemain sandiwara (seperti yang terjadi pada ikon perjuangan jugun ianfu asal Indonesia, Ibu Mardiyem).

Sampai saat ini, para mantan jugun ianfu masih merasakan trauma psikologis dan gangguan fungsi fisik akibat pengalaman pahit yang pernah mereka alami. Belum lagi masyarakat yang tidak memperoleh informasi dengan benar, justru menganggap mereka sebagai wanita penghibur (tanpa paksaan).

This slideshow requires JavaScript.

Kehidupan mantan jugu ianfu masih ada sampai sekarang, walaupun jumlahnya semakin kecil. Sebagian banyak dari mereka masih menganggap luka ini adalah aib. Tindakan pemerintah untuk menunjang hidup mereka menjadi lebih layak pun tak ada. Secara psikologis kejadian ini menjadi tekanan yang berat. Selama hidup mereka, ini akan menjadi beban dan aib keluarga. Padahal tak banyak orang tau bagaimana kejadian sebenarnya hingga mereka bisa seperti ini.

Jugun ianfu beda dengan pelacuran. Karena menurut saya mereka masih bisa dianggap pejuang. Mereka adalah sisi lain dari sebuah perjuangan menuju sebuah kemerdekaan, dan harga dirilah yang mereka korbankan. Masihkah tak kau sadari itu?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

  • Yang Nyasar

    • 1,415 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 486 pengikut lainnya.