Asal Mula #CeritaRabu di Legipait (Sang Penyambung Lidah)
Sudah sering saya datang ke Legipait. Tapi entah kenapa sekitar satu bulan lebih setiap hari rabu selalu tak bisa bersantai di sana. Padahal di hari yang lain saya masih bisa menikmati Hot Chocolate menu favorit saya kalau mampir ke sana. Kenapa hari rabu? Apa bedanya dengan hari yang lain? Karena kalau kamis tutup cuy..
Mungkin baru rabu malam ini (07/12/11) saya bisa menyempatkan datang ke Legipait. Kalau setiap senin ada #BlueMonday yang selalu menghadirkan musisi untuk live acoustic. Di hari rabu ada #RabuCerita yang kalau saya lihat di mana teman-teman yang ingin bercerita, mebacakan puisi, sajak atau ‘curhat’ bisa mengapresiasikannya di momen ini. “Unik memang, buat curhat sekarang nggak cuma bisa lewat twitter atau facebook. Udah waktunya show off,” kelakar teman sebelahku sambil tertawa.
Eits, jangan salah. Dikiranya gampang apa menceritakan sesuatu di depan orang banyak? Kalau membaca dalam hati atau dialog sama diri sendiri sih gampang. Coba deh sekarang kamu baca puisi atau flash fiction di depan cermin yg besar seukuran badanmu. Kalu udah dicoba dan semua intonasinya jelas, berarti kamu telah melewati satu tahap. Tapi ada satu lagi yang mungkin menurut saya ini yang paling susah. Bagaimana caranya cerita yang sudah kita sampaikan dengan intonasi sebaik mungkin bisa sampai ke pendengar? Tuh kan susah. Tapi tenang aja di sini nggak ngomingin masalah teori itu. Yang penting kamu mau bercerita dan berbagi kisah saya pikir Legipait bersedia menjadi wadah dan saksi apresiasimu. Nggak harus mahir atau sastrawan tapi mau berbagi cerita itu poinnya.
Tapi kenapa harus cerita? Apa kelebihan dari sebuah cerita? Kan masih ada yang lain yang mungkin lebih oke dari pada cerita. Dulu pertanyaan itu sempat muncul di pikiran saya. Tapi semenjak kemarin sore beberapa jam sebelum #RabuCerita dimulai. Akhirnya saya sedikit tahu apa alasan #RabuCerita di gelar. Saya sempat menyaksikan tweet admin @Legipait yang lagi komat-kamit memberikan pemanasan menjelang #RabuCerita. Mungkin tweet ini bisa menjelaskan ada apa dengan sebuah cerita?
Saran saya coba cari cemilan terlebih dahulu sebelum akhirnya anda terlena dan dimanjakan dengan sebuah kisah yang berikut ini

Bagaimana? Apa sebuah cerita ini sudah menjawab pertanyaan kamu tentang #RabuCerita? Kalau masih belum jelas juga, ada baiknya kamu memesan Hot Chocolate favorit saya di Legipait agar apa yang saya pikirkan bisa kamu pikirkan juga
Terlepas dari alasan yang saya tulis ini benar atau tidak. Tweet ini sudah mewakili asal mula #RabuCerita itu di gelar. Karena sebuah tutur itu merupakan warisan budaya dari nenek moyang kita. Dan memang benar, saat sebuah ‘tutur’ atau lisan (komunikasi) itu tersampaikan dengan benar. Maka sebuah tulisan hanya akan menjadi pelengkap dan menjadi bukti adanya sebuah ucapan dan pemikiran.
Makasih buat yang udah mau baca sampai selesai. Dan tolong dikoreksi kalau ada yang salah atau kurang sepakat. Silahkan berkomentar agar ‘tutur’ yang tak tersampaikan bisa digantikan oleh tulisan.



















belum pernah ke Legipait..
Buruan ke sana, sebelum tambah terkenal + rame ntar. Hahaha..